+6285321881879 admin@mekarmulya.desa.id


Tanah masam banyak dijumpai di wilayah ber-iklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols, dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0, dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia.  

            Kendala utama bagi pertumbuhan tanaman pada tanah masam adalah keracunan Al, Fe, dan Mn (Widawati, dalam Mujib dkk, 2004). Tingginya kandungan unsur-unsur tersebut akan berbahaya bagi akar dan menghambat pertumbuhan akar serta translokasi P dan Ca ke bagian tanaman. Selain itu tanaman kekurangan unsur hara makro terutama P. Kekurangan zat hara tersebut disebabkan oleh terikatnya unsur tersebut secara kuat pada partikel tanah seperti mineral lempung dan oksida-oksida besi dan alumunium membentuk Al dan Fe fosfat sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Tanah masam seperti ultisol mempunyai potensi untuk perluasan areal pertanian, namun produktivitasnya rendah. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat tanah seperti: pH dan KTK tanah yang rendah, miskin terhadap kation basa, Al-dd tinggi yang dapat meracuni tanaman, fiksasi unsur N, P,K, dan Ca serta mudah tererosi.

Tanah masam lainnya adalah tanah gambut, pada tanah ini dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi, kemasaman tanah tinggi, namun mempunyai ketersediaan hara makro dan mikro yang sangat rendah. Selain itu pada musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan pada musim kemarau akan terjadi kekeringan, sehingga tata air menjadi kebutuhan multak. Pengelolaan lahan gambut yang banyak mengandung bahan organik juga mengalami banyak kendala, yaitu: sifat kemasaman tanah, persentase kejenuhan basa yang rendah, drainase dan aerase yang jelek, serta kelarutan Al, Fe, dan Mn yang tinggi. Tingginya tingkat keasaman (pH) pada lahan gambut berkisar antara 3 – 5, yang mengkibatkan unsur hara makro tidak tersedia dalam jumlah yang cukup seperti kurangnya unsur Ca, N, P, K, dan Mg, unsur hara mikro yang diperlukan dalam jumlah sedikit mengalami peningkatan sehingga bersifat racun bagi tanaman seperti unsur Al, Mn, dan Fe. Selain itu tanah yang terlalu masam dapat menghambat perkembangan mikroorganisme tertentu di dalam tanah. Dengan sendirinya, kondisi tersebut akan berpengaruh buruk bagi pertumbuhan tanaman

 

 Sifat Kimia Tanah Ultisol

Hasil analisis sifat kimia pada tanah ultisol dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa tanah  berekasi masam dengan pH H2O adalah 4,75; tingkat kesuburan tanah rendah yaitu:   P-tersedia dan N-total rendah, C-organik dan ratio C/N sedang; kandungan basa-basa berkisar rendah sampai sangat rendah; kejenuhan Al sangat tinggi (57,5 %); serta mempunyai  KTK tanah yang rendah yaitu 11,12 me/100g, dan untuk lebih jelasnya dapat melihat table di bawah ini.

 

Tabel 1. Hasil Analisis Sifat Kimia Tanah Ultisol .

No

Sifat Tanah

Nilai

Kriteria

1.

C-Organik (%)

2,05

Sedang

2.

N-Total (%)

0,14

Rendah

3.

Ratio C/N

14,64

Sedang

4.

P-tersedia (ppm)

5,70

Rendah

5.

Ca-dd (me/100 g)

0,83

sangat rendah

6.

Mg-dd (me/100 g)

0,20

sangat rendah

7.

Na-dd (me/ 100 g)

0,11

Rendah

8.

K-dd (me/100 g)

0,15

Rendah

9.

KTK (me/100 g)

11,12

Rendah

10.

AI-dd (me/100 g)

2,05

11.

Kej. Al (%)

57,50

sangat tinggi

12.

pH H2O

4,75

Masam

12.

pH KC1

3,90

 

 

Secara keseluruhan tanah ultisol mempunyai tingkat kesuburan rendah (Tabel 1) meliputi N total, P tersedia, K tersedia yang rendah, pH tanah rendah dan kejenuhan Al sangat tinggi. Kondisi tersebut umumnya ditemukan pada Ultisol yang telah berumur lanjut dengan bahan induk batuan masam dan terletak pada zone iklim tropis basah dengan curah hujan yang tinggi, sehingga terjadi pencucian intensif terhadap kation-kation basa dan menyebabkan kandungan hara menjadi rendah serta rendahnya pH tanah akibat tingginya kandungan Al dan fiksasi P.

            Tanah pH tanahnya yang termasuk masam (pH 4,30) memiliki alumunium dapat ditukar  1,01 Cmol (+) kg-1 yang juga tergolong tinggi. Ini menunjukkan bahwa tanah tersebut didominasi oleh alumunium. Sedangkan unsur hara makronya tergolong rendah (N-total 0,15 %, P-tersedia 12,14 mg g-1, dan K-dapat ditukar 0,21 Cmol (+) kg-1). Kapasitas Tukar Kation 17,16 Cmol (+) kg-1 termasuk katagori sedang dengan kation-kation yang dapat ditukar seperti Ca dan Mg termasuk rendah masing-masing sebesar 3,27 dan 0,78 Cmol (+) kg-1.

 

Sifat Kimia tanah Gambut  

Tanah gambut sebelum digunakan untuk penelitian mempunyai pH yang tergolong rendah dan sangat asam, baik untuk pH H2O maupun pH KCL. Hal ini menunjukkan bahwa dalam tanah ion H+ dominan, seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Hasil analisa kimia tanah gambut

Parameter

Satuan

Nilai

pH H2O

3,46

pH KCL

2,76

N

Me 100 gr-1

0,08

P

Me 100 gr-1

2,45

K

Me 100 gr-1

0,27

Ca

Me 100 gr-1

6,85

Mg

Me 100 gr-1

0,28

Na

Me 100 gr-1

0,20

Fe

Ppm

355

Mn

Ppm

156

Zn

Ppm

16

Cu

Ppm

6

Al

Me 100 gr-1

2,40

C-Organik

%

21,52

Tekstur Tanah:

 

 

-Pasir

%

5,56

-Debu

%

85,95

-Liat 

%

8,49

 

Pada tanah-tanah asam dijumpai beberapa masalah yaitu unsur P kurang tersedia, kekurangan unsur N, K, Mg dan Ca. Unsur Fe dan Mn sering berlebihan sehingga dapat meracun bagi tanaman, dan kandungan Al cenderung sangat tinggi sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2, dimana kandungan unsur hara seperti N, P, K, Ca dan Mg sebelum perlakuan tergolong rendah. Unsur N pada tanah gambut yang digunakan untuk penelitian yaitu 0,08 %, sedangkan N total antara 0,1– 0,2 % tergolong rendah. Sebaliknya unsur Fe, Mn dan Al sangat tinggi. C-organik yang terkandung dalam tanah tergolong tinggi. Tanah dengan kadar C-organik yang lebih besar dari 5 % sudah tergolong tinggi. Hal ini karena adanya sisa-sisa tanaman atau bahan yang berasal dari jasad hidup baik yang masih segar maupun yang telah membusuk dan telah terjadi penguraian oleh beberapa mikroorganisme. Sisa-sisa tanaman baik yang berupa daun-daun, ranting ranting, batang dan akar-akar tanaman merupakan penyusun C-organik tanah terbesar. Rendahnya pH tanah gambut yang digunakan sebagai media tanaman maka dapat diperbaiki dengan pengapuran. Limbah pulp & paper berdasarkan hasil penelitian sangat efektif untuk meningkatkan pH tanah sebagai pengganti kapur.

 

 

 

 

 

Sumber Pustaka

 

Ermanita, Yusnida, dan L.N. Firdaus. 2004. Pertumbuhan Vegetatif Dua Varietas Jagung pada Tanah Gambut yang Diberi Limbah Pulp dan Paper. Biogenesis Jurnal Pendidikan Sains dan Teknologi (1) : 1

 

Hasanudin. 2003. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P Serta Hasil Tanaman Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza, Azotobakter, dan Bahan Organik pada Ultisol. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia (5)2 :83 – 89.

 

Bambang, M.G., Purwanto., W. Bilman., Simanihuruk, dan Arto J. 2002.  Pertumbuhan dan Hasil Jagung pada Lahan Gambut dengan Penerapan Teknologi Tampurin. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia (JIPI) (6):  14 – 12.  

 

Mohammad, M., S.Dwi., A.Sattya. 2004. Efektivitas Bakteri Pelarut Posfat dan Pupuk P Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays  L.) pada Tanah Masam. FMIPA, Universitas Jember.

 

Nurhayati, S. Amrizal dan Junaidi. 2002.Pengaruh Zeolit dan Bahan Humik pada Ultisol Terhadap Ketersediaan Hara dan Produksi Jagung (Zea mays L.). BPTP. Kep. Bangka Belitung

source:http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/835-mengenal-sifat-tanah-masam-gambut-dan-tanah-masam-ultisol


Artikel MENGENAL SIFAT TANAH MASAM GAMBUT DAN TANAH MASAM ULTISOL dikutip dari BPPP Lembang untuk informasi bidadaya dan referensi petani di Desa Mekarmulya.

Komentar Facebook