+6285321881879 admin@mekarmulya.desa.id


ABSTRACK

Agribisnis jeruk nipis adalah usaha pertanian yang dirancang untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi yang maksimal, dengan menghasilkan produk atau jasa yang diminta pasar.  Prospek agribisnis jeruk nipis cukup cerah karena permintaan terhadap produk jeruk nipis, baik buah segar maupun hasil olahannya, cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu kendala pengembangan olahan dari jeruk nipis adalah  adanya rasa pahit yang  terkandung dalam naringin dan limonin pada jaringan albedo, flavedo, biji, dan segmen buah jeruk . Senyawa ini dapat menimbulkan rasa pahit pada sari buah jeruk yang dihasilkan,  ketika proses ekstraksi, sebagian dari senyawa ini akan ikut terekstrak bersama buah jeruk dan tercampur dengan sari jeruk.  Hal ini didukung oleh pendapat Maier (1969) menyatakan bahwa senyawa yang berperan dalam terbentuknya rasa pahit pada sari buah jeruk adalah flavanone neohesperidoside (naringin) dan limonoid (limonin). Senyawa naringin hanya terdapat pada beberapa jenis jeruk seperti jeruk nipis, sedangkan limonin terdapat pada hampir semua jenis jeruk. Buah jeruk yang mengandung naringin dalam jumlah tinggi (hingga 700 ppm) akan terasa pahit ketika buah dikonsumsi segar. Berbeda halnya dengan senyawa limonin. Rasa pahit pada sari buah jeruk akibat senyawa limonin baru terasa ketika jeruk diproses melalui proses ekstraksi dan pemanasan, ada beberapa hal yang dilakukan untuk menghilangkan rasa pahit pada sari  jeruk nipis yaitu : memilih jeruk nipis yang benar-benar sudah matang, mengubah naringin yang pahit menjadi naringin yang tidak pahit dengan proses maserasi yaitu ekstraksi tanpa melakukan pemanasan atau ekstraksi yang dilakukan dengan pengadukan,  sebelum diperas lakukan penjemuran jeruk nipis  diatas sinar matahari langsung selama beberapa jam agar jeruk menjadi layu kulitnya, tambahkan 3  gr  sodium meta bisulfit kedalam  1  lt sari jeruk  kemudian endapkan  selama 2 hari   agar terbentuk endapan putih  dan upayakan dalam melakukan  penyaringan berhati-hati  agar sari jeruk tidak tercampur kembali dengan endapan putih tersebut.

 

Kata kunci :  sari jeruk nipis  dan pahit

 

 

I.               Pendahuluan

Indonesia merupakan negara agraris yang terletak di daerah tropis dan kaya akan buah-buahan. Namun, saat ini pasar komoditi buah-buahan telah dibanjiri oleh produk-produk impor, baik dalam bentuk produk segar atau olahan. Potensi buah-buahan tropis di Indonesia sangat besar apabila dimanfaatkan secara optimal. Salah satu komoditas buah tersebut adalah jeruk. Di Indonesia terdapat beberapa jenis jeruk yang umum dibudidayakan, yaitu jeruk keprok, jeruk siam, jeruk besar, jeruk nipis,  jeruk Garut, jeruk primond Lembang dan jeruk lemon.  Salah satu jeruk yang mempunyai potensi cukup bagus dan melimpah pada musim panen adalah jeruk nipis.

Pada dasarnya,  agribisnis jeruk nipis adalah usaha pertanian yang dirancang untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi yang maksimal, dengan menghasilkan produk atau jasa yang diminta pasar.  Prospek agribisnis jeruk nipis cukup cerah karena permintaan terhadap produk jeruk nipis, baik buah segar maupun hasil olahannya, cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. 

Informasi peluang pasar jeruk nipis dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya media massa dan media elektronik.  Permintaan jeruk nipis diberbagai kota di Indonesia sangat beragam, di Jakarta lebih dari 1 ton/hari, di Purwokerto dan sekitarnya mencapai 6 ton/bulan. Peluang pasar jeruk nipis tidak hanya terbuka lebar di pasar domestik, tetapi juga pasar luar negeri. 

Pengolahan jeruk  nipis menjadi sirup dan tonik merupakan salah satu nilai tambah dari usaha agribisnis jeruk nipis.  Pengolahan sirup jeruk nipis sudah dilakukan antara lain oleh  kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Intan Kencana dan UPPKA Flamboyan di Kabupaten Kuningan Jawa barat.  Saat ini, pasar lokal hanya mampu memasok bahan baku sebanyak 40% dari kebutuhan pabrik, sisanya merupakan buah jeruk nipis dari Lampung.  Penggunaan buah jeruk nipis semakin meluas, antara lain dibutuhkan dalam industri jamu dan obat tradisional serta industri minuman, baik skala rumah tangga maupun pabrikasi.  Buah jeruk nipis tahan disimpan dalam suhu kamar sampai satu bulan dan mengandung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi lengkap sebagai berikut :

 

Tabel 1.  Kandungan Gizi   dalam Setiap 100 gram Buah Jeruk Nipis Segar

No.

Jenis Zat Gizi

Banyaknya Kandungan Gizi

1.

Kalori (Kal)

37,00

2.

Protein (g)

0,80

3.

Lemak (g)

0,10

4.

Karbohidrat (g)

12,30

5.

Kalsium (mg)

40,00

6.

Fosfor (mg)

22,00

7.

Zat Besi (mg)

0,600

8.

Vitamin A (SI)

0,00

9.

Vitamin B 1 (mg)

0,04

10.

Vitamin C (mg)

27,00

11.

Air (g)

86,00

12.

Bdd (%) *)

76,00

*) : Bdd adalah singkatan dari bagian yang dapat dimakan

Sumber : Direktorat Gizi Depkes RI (1981).

 

II.           Tujuan

a.       Memahami jenis jeruk yang ada diwilayah Indonesia dan kandungan gizi jeruk nipis.

b.      Memahami penyebab rasa pahit dalam jeruk nipis.

c.       Memahami cara menghilangkan rasa pahit pada sari jeruk nipis.

 

III.        Manfaat

   Pengenalan terhadap tanaman jeruk nipis akan menambah kecintaan kita untuk menggali potensi sosial ekonomi dan kelestariannya, sebagai salah satu aset sumber daya alam.  Buah jeruk nipis tanpa biji berbentuk bulat seperti jeruk nipis berbiji dan berukuran sebesar telur ayam atau sebanding  dengan lemon tea.  Buah masak berwarna kuning mulus dengan daging buah berwarna kuning atau atau kuning kehijau-hijauan.  Kulit buah tipis dan berwarna kuning bersih.  Buah jeruk nipis tanpa biji tumbuh satu per satu pada tangkai, tidak bergerombol. 

Kegunaan sari buah jeruk nipis antara lain adalah sebagai berikut :

·                Menambah energi dan mempercepat kesembuhan.

·                Menghindari serangan selesma dan pendarahan.

·                Mengatur pengeluaran cairan empedu, memberi efek pendinginan, mengurangi selesma, mengurangi keasaman darah, sebagai tonikum bagi jantung, dan bila ditambah madu dapat membantu mengatasi gangguan pada jantung.

·                Meringankan penyakit tuberkulosis, asma, masuk angin dan bronkhitis.

·                Memperlancar pengeluaran lendir dan melindungi paru-paru dari infeksi        ulang.

·                Bila dicampur dengan sedikit lada dan garam, dapat mengobati gangguan pencernaan makanan yang disebabkan oleh makanan yang terlalu berlemak dan mual-mual yang disebabkan oleh pengeluaran empedu secara berlebihan.

·                Menyembuhkan pendarahan karena wasir, rasa haus yang berlebihan, deman, batuk, dan sariawan.

·                Bila diminum secara teratur, akan mempertinggi daya tahan tubuh terhadap semua penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan jeruk nipis yang melimpah tersebut adalah dengan menciptakan produk olahan dari jeruk nipis.
Jeruk dapat dimanfaatkan menjadi bermacam-macam produk, antara lain sari buah, sirup, manisan, selai, konsentrat, marmalaide, jus, leather dan lain sebagainya. Sari buah merupakan salah satu produk olahan buah-buahan yang banyak ditemui di pasaran dan merupakan salah satu trend produk minuman saat ini. Pengolahan buah jeruk menjadi sari buah dapat meningkatkan daya simpan dan nilai ekonominya.  Salah satu kendala yang ditemui pada olahan buah jeruk adalah adanya rasa pahit yang terkandung dalam buah jeruk.

 

IV.        Metodologi Penulisan

Dalam penyusunan karya tulis ilmiah populer ini metodologi yang dilakukan dengan cara yang  sangat sederhana yaitu dengan cara mencari referensi di perpustakaan, studi pustaka yang berkaitan dengan topik tersebut,  mereview beberapa jurnal dan pengalaman penulis dalam  hal praktek membuat sari jeruk nipis.

 

V.           Hasil dan Pembahasan

Secara umum, buah jeruk terdiri dari bagian daging buah dan kulit. Bagian daging buah yang dapat dimakan disebut dengan endokarp. Endokarp terdiri atas segmen-segmen yang disebut carpel atau locule. Di dalam segmen-segmen tersebut terdapat kantung-kantung sari buah yang berdinding tipis. Endokarp dikelilingi oleh bagian jeruk yang dinamakan kulit. Kulit buah jeruk terdiri dari flavedo dan albedo. Flavedo merupakan bagian kulit luar yang terletak di bagian bawah lapisan epidermis dan mengandung kromoplas dan kantung minyak, sedangkan kulit bagian dalam yang disebut albedo merupakan lapisan jaringan busa. Bagian tengah buah jeruk disebut dengan core atau central plasenta yang berbatasan dengan biji yang terdapat di dalam segmen (Ting dan Ataway, 1971).

Flavedo mengandung minyak essensial, pigmen karotenoid, dan senyawa steroid, sedangkan albedo kaya akan senyawa selulosa, hemiselulosa, lignin, pektat, dan fenolik. Komposisi dari dinding segmen, kantung sari buah, dan pusat buah tidak banyak berbeda dengan albedo. Sebagian besar gula dan asam sitrat terdapat pada sari buah disamping komponen nitrogen, lipid, senyawa fenolik, vitamin, dan senyawa anorganik. Komponen utama dari total padatan terlarut sari buah jeruk adalah gula yang mencapai 75 – 85 %. Jenis gula yang terpenting adalah 2 monosakarida, yaitu D-glukosa dan D-fruktosa, serta disakarida sukrosa dengan perbandingan jumlah D-glukosa : D-fruktosa : sukrosa yaitu 1:1:2. Setiap 100 ml sari buah jeruk siam mengandung 1.02 – 1.24 g glukosa, 1.49 – 1.58 g fruktosa, 2.19 – 4.90 g sukrosa dengan total gula berkisar antara 4.93 – 7.57 gram. Kandungan gula meningkat dengan semakin matangnya buah dan sebanding dengan berkurangnya cadangan pati (Ting dan Attaway, 1971).

 

Rasa pahit pada sari buah jeruk nipis

Kurang berkembangnya produk olahan dari jeruk nipis saat ini disebabkan oleh adanya kandungan naringin dan limonin pada jaringan albedo, flavedo, biji, dan segmen buah jeruk . Senyawa ini dapat menimbulkan rasa pahit pada sari buah jeruk yang dihasilkan. Ketika proses ekstraksi, sebagian dari senyawa ini akan ikut terekstrak bersama buah jeruk dan tercampur dengan sari jeruk (Hulme, 1971).

Maier (1969) menyatakan bahwa senyawa yang berperan dalam terbentuknya rasa pahit pada sari buah jeruk adalah flavanone neohesperidoside (naringin) dan limonoid (limonin). Senyawa naringin hanya terdapat pada beberapa jenis jeruk, sedangkan limonin terdapat pada hampir semua jenis jeruk. Buah jeruk yang mengandung naringin dalam jumlah tinggi (hingga 700 ppm) akan terasa pahit ketika buah dikonsumsi segar. Berbeda halnya dengan senyawa limonin. Rasa pahit pada sari buah jeruk akibat senyawa limonin baru terasa ketika jeruk diproses melalui proses ekstraksi dan pemanasan.

Naringin (naringenin 7-ß-neohesperidoside) merupakan senyawa turunan naringenin yang bersifat larut dalam air dan terkandung di dalam flavedo, albedo, membran segmen, dan juice sacs pada buah jeruk. Struktur molekul naringin dapat dilihat pada Gambar 2. Rasa pahit akibat naringin akan sangat terasa ketika jumlahnya pada buah jeruk melampaui 700 ppm (Puri, 1990). Selama proses ekstraksi, naringin pada albedo dan segmen buah secara cepat akan masuk dan larut ke dalam ekstrak jeruk sehingga menyebabkan ekstrak jeruk menjadi pahit.  Senyawa limonin biasa disebut juga sebagai “delayed bitterness” karena efek pahitnya baru dapat dirasakan ketika buah jeruk mengalami proses pengolahan. Senyawa yang terdapat pada buah jeruk segar adalah limonoic acid A ring lactone yang bertindak sebagai prekursor senyawa limonin. Ketika buah jeruk mulai mengalami proses ekstraksi, senyawa limonoic acid A ring lactone akan masuk ke dalam ekstrak jeruk. Pada kondisi asam tersebut, limonoic acid A ring lactone menjadi tidak stabil dan terkonversi menjadi senyawa limonin. Adanya proses panas seperti pasteurisasi atau evaporasi menyebabkan semakin cepat dan banyak senyawa limonoic acid A ring lactone yang terkonversi menjadi limonin. Selama pembentukan partikel-partikel terlarut, limonin terdispersi ke dalam sari buah dan bila mencapai jumlah tertentu dapat menimbulkan rasa pahit. Senyawa prekursor limonin terkandung di dalam albedo, core, dan biji buah jeruk (Puri, 1990).
             Menurut Maier (1969), pembentukan rasa pahit pada sari buah jeruk akibat naringin dan limonin didukung oleh beberapa faktor, di antaranya adalah keadaan alami buah dan cara ekstraksi. Kandungan senyawa naringin atau prekursor limonin pada buah jeruk akan semakin berkurang seiring dengan kematangan jeruk. Oleh karena itu, pemilihan buah jeruk pada pembuatan sari buah atau konsentrat jeruk menjadi sangat penting. Begitu pula dengan metode ekstraksi. Ekstraksi dengan pressing yang tinggi akan memperparah rusaknya jaringan albedo buah jeruk. Hal ini menyebabkan semakin banyak senyawa naringin atau prekursor limonin yang akan terpapar pada ekstrak jeruk. Dan akhirnya adalah tahapan formulasi yang tepat agar dihasilkan sari buah jeruk Pontianak yang dapat dinikmati konsumen.


Upaya menghilangkan rasa pahit :

Ada beberapa hal yang dilakukan untuk menghilangkan rasa pahit pada sari  jeruk nipis yaitu : memilih jeruk nipis yang benar-benar sudah matang, mengubah naringin yang pahit menjadi naringin yang tidak pahit dengan proses maserasi yaitu ekstraksi tanpa melakukan pemanasan atau ekstraksi yang dilakukan dengan pengadukan,  sebelum diperas lakukan penjemuran jeruk nipis  diatas sinar matahari langsung selama beberapa jam agar jeruk menjadi layu kulitnya, tambahkan 3  gr  sodium meta bisulfit kedalam  1  lt sari jeruk  kemudian endapkan  selama 2 hari   agar terbentuk endapan putih  dan upayakan dalam melakukan  penyaringan berhati-hati  agar sari jeruk tidak tercampur kembali dengan endapan putih tersebut.

 

Proses pengolahan syrup jeruk nipis

Bahan baku dalam pembuatan syrup jeruk nipis adalah buah jeruk nipis yang dibuat sari jeruk nipis, air dan bahan-bahan tambahan pangan seperti pemanis, acidulant (asam malat), penstabil, dan pengawet. Buah jeruk, sebagai bahan baku utama, harus dalam keadaan masak, memiliki cita rasa yang enak, tidak hambar, dan mengandung cukup banyak asam-asam organik. Hal ini akan menentukan flavor, warna, nilai gizi, kandungan padatan, dan keasaman sari buah. Selain itu, buah yang digunakan juga harus masih segar, tidak busuk, dan tidak berkapang. Pemanis yang biasa digunakan pada sari buah adalah sukrosa atau fruktosa, ditambahkan sebanyak minimal 10% atau lebih, tergantung tingkat kemanisan buah yang digunakan dan tingkat kemanisan sari buah yang dikehendaki. Penstabil digunakan untuk menstabilkan sari buah, khususnya selama penyimpanan. Pada sari buah tertentu juga perlu ditambahkan pewarna untuk meningkatkan intensitas warna dan pengawet untuk memperpanjang umur simpannya.

Proses sortasi dilakukan untuk memilih buah yang memiliki kematangan optimum, tidak busuk, dan tidak berkapang. Hal ini penting agar syrup jeruk  yang dihasilkan memiliki kandungan gizi dan rasa yang optimal. Pemilihan buah yang cukup matang pada buah jeruk juga menentukan tingkat kepahitan pada produk syrup jeruk. Menurut Rouseff (1990), rasa pahit akibat senyawa limonin akan berkurang seiring dengan meningkatnya kematangan buah jeruk. Proses pencucian dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada kulit buah.  Proses ekstraksi pada pembuatan syrup buah bertujuan untuk mendapatkan cairan buah. Ekstraksi yang baik dapat menghindarkan tercampurnya kotoran dan jaringan buah sehingga flavornya tetap terjaga.

Proses ekstraksi dapat dilakukan dengan cara pengepresan (menggunakan juice extractor), penghancuran (dengan menggunakan blender atau parutan), atau dengan cara perebusan. Berbagai metode ekstraksi ini dipilih berdasarkan jenis buah dan karakteristik syrup yang dihasilkan. Pada buah yang banyak mengandung biji dan cenderung memiliki sedikit serat, seperti jeruk dan markisa, maka ekstraksi lebih baik dilakukan dengan cara pengepresan karena hal ini dapat mencegah hancurnya biji yang dapat menyebabkan rasa pahit pada syrup buah. Biasanya ekstraksi untuk buah-buah tersebut dibantu dengan alat ekstraksi khusus.   Setelah diperoleh syrupi jeruk  untuk menghilangkan rasa pahit pada jeruk nipis, dilakukan pengendapan dengan cara sebagai berikut sari jeruk   ditambah dengan sodium metabisulfit 3 gram per liter sari jeruk,  pengendapan dilakukan selama 2 malam. Tujuan pengendapan ialah mengurangi rasa pahit pada sirup jeruk nipis  dan menghilangkan perubahan warna dari syrup jeruk.  Setelah itu dilakukan penyaringan, usahakan endapan putih pada sari jeruk nipis tidak terikut.  Selanjutnya adalah  proses pasteurisasi merupakan proses pemanasan dengan suhu relatif rendah (di bawah 100o C) dengan tujuan  menginaktifasi enzim dan membunuh mikroba pembusuk. Pasteurisasi pada syrup jeruk  biasa dilakukan pada suhu 75oC selama 15 menit. Pemilihan proses ini didasarkan pada sifat produk yang relatif asam sehingga mikroba menjadi lebih sensitif terhadap panas. Selain itu, dengan pemanasan yang lebih rendah akan meminimalkan rusaknya beberapa zat gizi seperti vitamin C.   Syrup jeruk kemudian diisikan ke dalam botol yang telah disterilkan dengan memperhatikan headspace. Botol kemudian ditutup dan dipasteurisasi kembali. Selanjutnya, syirup jeruk  didinginkan dan disimpan pada suhu dingin kemudian beri label sesuai dengan peruntukkannya.

 

VI.        Kesimpulan

Dari hasil review diperoleh kesimpulan bahwa :

1.             Jeruk nipis mempunyai kandungan gizi yang cukup baik sebagai bahan baku pangan seperti kalori, karbohidrat, calsium, fosfor dan vitamin terutama Vit C.

2.        Rasa pahit pada sari buah jeruk adalah flavanone neohesperidoside (naringin) dan limonoid (limonin). Senyawa naringin hanya terdapat pada beberapa jenis jeruk, sedangkan limonin terdapat pada hampir semua jenis jeruk. Buah jeruk yang mengandung naringin dalam jumlah tinggi (hingga 700 ppm) akan terasa pahit ketika buah dikonsumsi segar. Berbeda halnya dengan senyawa limonin. Rasa pahit pada sari buah jeruk akibat senyawa limonin baru terasa ketika jeruk diproses melalui proses ekstraksi dan pemanasan.

3.             Rasa pahit  pada sari  jeruk nipis dapat dihilangkan dengan : memilih jeruk nipis yang benar-benar sudah matang fisiologi, mengubah naringin yang pahit menjadi naringin yang tidak pahit dengan proses maserasi yaitu ekstraksi tanpa melakukan pemanasan atau ekstraksi yang dilakukan dengan pengadukan,  sebelum diperas lakukan penjemuran jeruk nipis  diatas sinar matahari langsung selama beberapa jam agar jeruk menjadi layu kulitnya, tambahkan 3  gr  sodium meta bisulfit kedalam  1  lt sari jeruk  kemudian endapkan  selama 2 hari  agar terbentuk endapan putih  dan upayakan dalam melakukan  penyaringan berhati-hati  agar sari jeruk tidak tercampur kembali dengan endapannya tersebut.

 

 

VII.     Daftar Pustaka

1.              Maier, V.P., R.D Bennet, dan S. Hasegawa. 1977. Limonin and Other Limonoids. Di dalam: Naggy S, Shaw P.E., dan Veldhuis M.K. (eds). Citrus Science and Technology. The AVI Publishing Co, Inc. Westport, Connecticut.

2.              Puri, A. 1990. Removal of Bitter Compounds From Citrus Products by Adsorption Techniques. Di dalam: R.L Rouseff (ed). Bitterness in Food and Beverages. Elsevier Science Publ. New York.

3.              Rouseff, R.L. 1990. Bitterness in Food Products : An Overview. Di dalam: R.L Rouseff (ed). Bitterness in Food and Beverages. Elsevier Science Publ. New York.

4.              Ting, V.S. dan J.A Attaway. 1971. Citrus Fruits. Academic Press. London.

5.              Woodroof, JG. 1975. Fruit Washing, Peeling, and Preparation for Processing. Di dalam: Jasper G.W. dan B.S. Luh (eds). Commercial Fruit Processing. The AVI Publ. Co, Inc. Westport, Connecticut.

source:http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/792-menghilangkan-rasa-pahit-pada-sari-jeruk-nipis


Artikel MENGHILANGKAN RASA PAHIT PADA SARI JERUK NIPIS dikutip dari BPPP Lembang untuk informasi bidadaya dan referensi petani di Desa Mekarmulya.

Komentar Facebook