+6285321881879 admin@mekarmulya.desa.id


Kentang (solanum tuberosum) merupakan salah satu pangan utama dunia setelah padi, gandum, dan jagung. Kentang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat dan mempunyai potensi dalam program diversifikasi pangan. Kentang sangat digemari hampir semua orang, bahkan dibeberapa daerah ada yang menjadikannya sebagai makanan pokok. Selain itu kentang juga banyak mengandung vitamin B, C, dan sejumlah vitamin A. Kentang selain dimanfaatkan sebagai sayuran dapat juga diolah menjadi makanan ringan seperti keripik, ceriping, dodol, donat, dan perkedel.

Tetapi kelemahan dari kentang yaitu mengandung banyak air sehingga apabila diolah menjadi panganan lain perlu teknologi khusus untuk mengolahnya supaya menjadi tahan lama disimpan. Seperti kita ketahui bahwa kentang termasuk kedalam katagoriproduk agroindustri yang eksklusif sehingga untuk memasarkannya perlu dilakukan sortasi dan grading. Sortasi dan grading pada umbi kentang merupakan tahapan kedua yang dilakukan dalam proses penanganan pasca panen. Setelah umbi kentang dicuci, umbi kentang selanjutnya disortasi. Pada proses ini dilakukan pemisahan terhadap umbi yang baik dan sehat, yaitu umbi yang tidak cacat dan tidak terserang hama ataupun penyakit. Kegiatan ini dapat mencegah penularan penyakit dari umbi yang sakit atau rusak ke umbi yang sehat.

Setelah disortasi, umbi kentang yang sehat dikelompokkan menurut ukuran besar umbi atau beratnya, varietas, dan tingkat ketuaan umbi. Hasil grading adalah kentang dengan kelas mutu I, II, III, dan IV. Grading bisa dilakukan bersamaan dengan sortasi. Menurut Setiadi Surya Fitri N (1993), kentang varietas French Fries dapat dikelompokkan kedalam 4 kelas mutu menurut ukuran beratnya, yaitu:

Kelas mutu I               : berat antara 250-400 g

Kelas II                       : berat antara 100-250 g

Kelas III                      : berat antara 60-100 g

Kelas IV                      : berat antara 30-60 g

Sedangkan menurut SNI-01-3175-1992 umbi kentang segar dikelompokkan kedalam 3 mutu yaitu mutu I, II, dan III. Untuk kelas dibawahnya biasanya dijual kepasar tradisional atau dijual murah.Salah satu kelebihan dalam proses pengolahan pilus adalah dapat menggunakan kentang yang sudah tidak berkelas, sehingga harga jualnya pilus kentang ini cukup bisa bersaing dipasar atau ditoko oleh-oleh menjadi makanan khas daerah-daerah yang memang produsen kentang seperti Wonosobo, Garut, Pangalengan, dan wilayah lainnya 

Pilus merupakan salah satu makanan ringan gurih renyahyang banyak disukai oleh anak-anak hingga orang dewasa. Pilus kentang adalah pilus yang menggunakan bahan dasar kentang dan bahan-bahanseperti tepung sagu, telur dan lain-lain yang merupakan bahan tambahan. Rasa pilus ini sebetulnya bisa disesuaikan dengan kesukaan konsumen seperti rasa manis, asin, pedas, rasa kari, rasa rendang, rasa bumbu sate, dan lain sebagainya.

Panganan kecil tersebut sering dikonsumsi disaat-saat santaidan merupakan makanan wajib bagi para pecinta sepak bola. Produk snack pilus di Indonesia banyak dilakoni oleh industri kecil dan beberapa adalah pengusaha kelas kakap. Usaha memproduksi cemilan pilus masih memiliki pangsa pasar yang cukup bagus, meskipun usaha ini telah digeluti oleh banyak pemain.

Bahan dan Alat:

Pembuatan pilus boleh dibilang cukup sederhana. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain: pasta kentang (1/2 kg), tepung terigu atau tepung sagu (1/4kg), telur (3butir), air, garam, perasa makanan, minyak goreng, dan juga bahan tambahan misalnya keju. Alat-alat yang dibutuhkan: wadah untuk mencampur dan mengulek adonan,  kompor, sendok, ayakan dan juga penggorengan.

Cara pembuatan:
Kukus kentang kemudian kupas kulitnya setelah itu ulek kentang sampai halus
dan jadilah pasta kentang. Kocok telur bersama garam dan bumbu, kemudian tuangkan secara perlahan tepung yang dipakai bersama bahan tambahan misalnya keju parut, uleni hingga menjadi adonan yang tercampur rata. Bila masih terlalu padat, tambahkan sedikit air. Setelah itu panaskan minyak sayur. Bentuk adonan bulat-bulat kecil atau berbentuk silinder dengan telapak tangan. Jika ingin cepat, cetak bentuk adonan dengan menggunakan ayakan atau dipress dengan jaring. Goreng bahan pilus hingga menjadi matang dan mengapung. Angkat dan tiriskan, pilus pun siap dikonsumi.Untuk menghindari minyak yang berlebihan setelah digoreng maka hendaknya setelah matang pilus diangkat dengan serok kemudian diamkan diatas serok sampai agak dingin, baru taruh diatas tisu dan kemas sesuai kebutuhan. Beri label yang menarik konsumen untuk mengkonsumsinya.      

 

Daftar Pustaka

Diputri, Yullyndra T., (2009), Pengolahan Tepung Kentang, http://www.bbpp-lembang.info/index.php, accesed 2010/04/19.

 

Effendi, M. Supli, (2009), Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan, Penerbit Alfabet, Bandung.

 

Fellow, P., (1990), Food Processing Technology Principles and Practice, Ellis Horwood, New York.

 

Geankoplis, Christie J., (1993), Transport Processing and Unit Operations, Prentice Hall of India Private Limited, Delhi.

 

Muchtadi T, (1984), Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan, Depdikbud Dirjen Fakultas Teknik Pertanian Institut Teknologi Bogor, Bogor.

 

 

source:http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/918-pilus-kentang-nan-renyah-dan-gurih


Artikel Pilus Kentang nan Renyah dan Gurih dikutip dari BPPP Lembang untuk informasi bidadaya dan referensi petani di Desa Mekarmulya.

Komentar Facebook