+6285321881879 admin@mekarmulya.desa.id


 mentimun.jpg

TEKNIK PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN MULSA
PADA BUDIDAYA MENTIMUN JEPANG

 

Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar dan merambat dengan perantaraan alat pemegang yang berbentuk spiral. Tanaman mentimun berasal dari bagian utara India, yakni lereng Gunung Himalaya yang kemudian berkembang ke wilayah mediteran. Di kawasan Asia khususnya Indonesia, mentimun baru dikenal sekitar 2 abad sebelum masehi. Di Jawa dan Sumatera, mentimun banyak ditanam di dataran rendah (Samadi 2002).

 

Mentimun Jepang termasuk golongan mentimun hibrida. Mentimun ini mempunyai buah yang panjang, berwarna hijau tua, daging buah tebal, rasa renyah, dan pengkal buah tidak pahit (Sumpena, 2002). Pertumbuhannya seragam, bunga betina dan bakal buahnya banyak, dan relatif tahan terhadap penyakit khususnya virus (Purwanto dan Asih, 2001). Penampilan mentimun Jepang dapat dilihat pada gambar 1.

Budidaya sayuran termasuk mentimun, biasanya menggunakan pupuk organik. Pupuk organik dengan bahan dasar dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Pupuk organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan pupuk organik juga tidak meninggalkan residu pada hasil tanaman sehingga aman bagi manusia (Ismawati, 2003).

Berdasarkan bahan dasarnya ada dikenal ada beberapa jenis pupk organik, dan jenis yang sering digunakan dalam pertanian adalah pupuk kandang dan kompos. Pupuk kandang merupakan hasil fermentasi kotoran padat dan cair (urine) ternak, seperti sapi, kambing, ayam , kuda dan burung. Kompos merupakan pupuk organik dari hasil pelapukan organk atau bahan-bahan tanaman seperti jerami, sekam, daun-daunan dan rumput-rumputan yang berasal dari limbah hayati (Isamawati, 2003).

{mospagebreak} 

Mulsa juga sering digunakan pada budidaya sayuran. Pemberian mulsa dimaksudkan untuk memperkecil kompetisi tanaman dengan gulma, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi penguapan, mencegah erosi serta mempertahankan struktur, suhu dan kelembaban tanah (Harist, 2000).

Berdasarkan bahan dan cara pembuatan, mulsa dapat dikelompokkan menjadi 3 : mulsa organik, mulsa anorganik, dan mulsa sintetis.Mulsa organik berasal dari bahan sisa pertanian, seperti jerami dna daun-daunan. Mulsa anorganik berasal dari bahan batu-batuan dalam berbagai bentuk dan ukuran, seperti batu kerikil, dan mulsa kimia sintetis bearasal dari bahan plastik seperti mulsa plastik hitam perak (Harist, 2000).

 

Mulsa jerami dapat dimanfaatkan untuk setiap jenis dan tanaman. Karena sifatnya yang mudah lapu, mulsa jerami banyak diaplikasikan pada tanah yangtelah dieksploitasi berat agar kesuburan tanah pada jangka waktu tertentu dapat dikembalikan melalui pelapukan mulsa jerami tersebut. Dewasa ini mulsa plastik hitam perak telah diterapkan secara luas, karena warna perak dapat memantulkan cahaya matahari, sehingga energi cahaya matahari yang diterima oleh tanaman lebih besar (Harist, 2000). Energi matahari yang diterima tanaman akan mempengaruhi aktifitas fotosintesis; makin besar energi yang diterima tanaman, makin tinggi aktifitas fotosintesisnya. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi perlakuan pupuk organik dan mulsa pada tanaman mentimun Jepang.

source:http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/533-pupuk-organik


Artikel Pupuk Organik dikutip dari BPPP Lembang untuk informasi bidadaya dan referensi petani di Desa Mekarmulya.

Komentar Facebook